Perjalanan AVOSKIN ke Pulau Lembata, Pulau Adonara dan Larantuka bersama TORAJAMELO

November 27, 2019

Perjalanan AVOSKIN ke Pulau Lembata, Pulau Adonara dan Larantuka bersama TORAJAMELO

Tahun ini Avoskin merayakan satu tahun kerja sama bersama TORAJAMELO - sebuah sociobrand yang berkomitmen untuk pemberdayaan perempuan dan pelestarian tenun di Nusa Tenggara Timur. Dalam satu tahun kerja sama, Avoskin dan Torajamelo bersama-sama melakukan program pemberdayaan perempuan di daerah Lembata, Mamasa, Adonara dan Toraja. Baik Avoskin maupun TORAJAMELO sama-sama menyadari bahwa potensi perempuan di daerah tersebut sangat bisa dikembangkan dan tentunya akan memberikan dampak untuk berbagai aspek kehidupan mereka nantinya.

Pada bulan November, 2019 ini Avoskin mengirimkan perwakilan perusahaan untuk melakukan kunjungan ke Pulau Lembata bersama dengan TORAJAMELO. Dalam perjalanan ini, Avoskin seperti diajak membuka mata tentang keindahan alam di timur Indonesia, kondisi sosial dan ekonomi di pulau tersebut, potensi tenun yang mereka kembangkan selama ini, adat yang masih kental dan menjadi pegangan hidup, hingga semangatnya untuk terus meraih pendidikan tinggi, dan semangat untuk terus bertumbuh.

Melihat Kondisi Sosial dan Ekonomi di Lembata

Lembata merupakan pulau kecil yang menjadi bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mata pencaharian warga di pulau ini didominasi oleh penenun dan nelayan. Menenun sudah menjadi pekerjaan mayoritas perempuan di pulau ini. Dulunya, para penenun ini memiliki penghasilan sekitar Rp. 500.000,- setiap bulannya. Namun, penghasilan mereka semakin meningkat sejak TORAJAMELO melakukan program pendampingan untuk penenun di sana sejak 2014. Saat ini, penghasilan para penenun ahli (master weavers) di Pulau Lembata mencapai Rp. 2.500.000,- hingga Rp. 3.000.000,- atau lima hingga enam kali lipat dibandingkan penghasilan mereka sebelumnya. Meskipun demikian, masih ada sekitar 700 penenun PEKKA yang penghasilannya masih rendah dan belum rutin setiap bulannya.

Dengan penghasilan tersebut, banyak penenun di Lembata yang sesungguhnya menyandang peran sebagai kepala keluarga sehingga otomatis mereka juga menjadi tulang punggung keluarga. Bahkan, di pulau ini ada yayasan khusus yang memiliki program pemberdayaan untuk mendampingi para perempuan kepala keluarga yaitu, Yayasan PEKKA. Yayasan ini merupakan perkumpulan perempuan baik yang bersuami, ditinggal meninggal oleh suami, ditinggal rantau atau diabaikan oleh suami, janda, hingga perempuan yang memang memilih untuk hidup sendiri sebagai single dan menjadi kepala keluarga serta menafkahi seluruh anggota keluarganya. Program-program pendampingan yang dilakukan oleh Yayasan PEKKA ini juga membantu menyukseskan kerja sama yang dijalin oleh Avoskin dan TORAJAMELO.

Benang Katun untuk Penenun

Pada kerja sama ini, Avoskin menyumbang sejumlah dana untuk Yayasan TORAJAMELO membeli benang katun dengan kualitas terbaik dan dicelup dengan pewarna sintetis namun tidak luntur dengan menggunakan color scheme dari TORAJAMELO yang sudah diriset selama beberapa tahun sebelumnya. Benang tersebut kemudian didistribusikan untuk penenun binaan TORAJAMELO di Lembata, Mamasa, dan Toraja. Benang katun menjadi kebutuhan pokok para penenun di Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur, TORAJAMELO sudah memperkenalkan jenis benang katun dengan color scheme alam NTT ini sejak tahun 2015 dan pada tahun 2019 diperkuat oleh Avoskin.

Dengan berlangsungnya kerjasama ini, TORAJAMELO berhasil membawa 40 lembar kain tenun dari benang katun tidak luntur tersebut sebagai artwork di sebuah hotel bintang 4 di Jakarta supaya semakin diakui pasar. Para Penenun Lembata sangat professional dan mampu berkolaborasi dengan Desainer Ibukota untuk membuat selembar kain tenun penetotan dengan kualitas internasional. Pesanan tersebut semakin memacu semangat para penenun untuk terus menghasilkan kain tenun terbaik. Dan Avoskin akan selalu mendukungnya.

Lebih dari itu, benang katun untuk penenun ini rupanya tak hanya meningkatkan hasil tenun. Namun, juga menghidupkan perekonomian perempuan di sana sehingga mereka pun menjadi lebih berdaya. Perempuan-perempuan yang berdaya ini otomatis akan memberi dampak besar untuk peningkatan kualitas generasi muda di Pulau Lembata. Apalagi mereka memegang teguh bahwa anak-anak harus mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Oleh karena itu, satu aksi yang mungkin tampak kecil ini punya dampak berkelanjutan untuk membangun daerah di timur Indonesia.